| | | |

Zara Larsson Blokir Artis yang ‘Melakukan Pelecehan’ di Spotify, Lagu Chris Brown Tak Ada di Playlist

Di era streaming digital yang semakin berkembang pesat, pendengar musik kini memiliki kendali yang jauh lebih besar atas pengalaman mendengarkan mereka. Platform seperti Spotify memungkinkan pengguna untuk mengatur algoritma, menyaring rekomendasi, hingga memblokir artis tertentu agar karya mereka tidak lagi muncul di beranda maupun daftar putar pribadi. Fitur ini tidak hanya dimanfaatkan untuk menyesuaikan selera musik, tetapi juga menjadi sarana bagi sebagian orang untuk mengekspresikan sikap dan nilai pribadi terhadap isu-isu tertentu di industri hiburan.

Baru-baru ini, penyanyi pop asal Swedia, Zara Larsson, menarik perhatian publik setelah mengungkapkan bahwa ia secara sadar menggunakan fitur tersebut untuk memblokir artis yang menurutnya memiliki rekam jejak perilaku bermasalah, termasuk dugaan pelecehan atau tindakan tidak etis lainnya. Dalam pernyataannya, ia secara tegas menyebut bahwa lagu-lagu dari Chris Brown tidak akan pernah ditemukan dalam playlist pribadinya. Sikap ini langsung memicu perbincangan luas di media sosial, terutama karena Brown selama ini dikenal sebagai figur berbakat sekaligus kontroversial di industri musik.

Larsson menyampaikan pandangannya tersebut saat tampil dalam segmen “Cheap Shots” milik Cosmopolitan. Dalam wawancara singkat itu, ia menjelaskan bahwa keputusannya bukanlah tindakan impulsif, melainkan pilihan sadar yang berangkat dari prinsip pribadi. Baginya, mendengarkan musik di platform streaming juga berarti memberikan dukungan, baik secara moral maupun finansial, kepada artis yang bersangkutan. Oleh karena itu, ia memilih untuk tidak memasukkan karya dari musisi yang dinilainya memiliki riwayat kontroversial serius ke dalam daftar dengarnya.

Sumber: gettyimages

Zara Larsson adalah penyanyi pop asal Swedia berusia 28 tahun yang namanya melejit secara global lewat lagu-lagu hit seperti Lush Life dan Symphony, menjadikannya salah satu figur penting dalam lanskap pop internasional dalam satu dekade terakhir. Namun belakangan, sorotan terhadap dirinya bukan hanya datang dari pencapaian musikal, melainkan juga dari sikap terbukanya mengenai prinsip pribadi dalam mengonsumsi musik. Dalam sebuah wawancara, Larsson secara blak-blakan mengungkapkan bahwa ia telah memblokir sejumlah artis di akun Spotify miliknya, dan menurutnya, semua artis yang ia blokir memiliki riwayat perilaku yang ia anggap sebagai bentuk pelecehan atau kekerasan. Ia bahkan menyatakan dengan tegas, “There’s so many artists I have blocked on Spotify, and all of them are like, abusers. You certainly wouldn’t find a Chris Brown song”, yang menegaskan bahwa lagu-lagu dari Chris Brown tidak akan pernah muncul dalam playlist pribadinya. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa bagi Larsson, pilihan mendengarkan musik bukan sekadar soal selera, tetapi juga berkaitan erat dengan nilai moral dan sikap personal terhadap rekam jejak seorang artis.

Fitur blokir yang tersedia di Spotify memberi keleluasaan bagi pengguna untuk menyaring pengalaman mendengarkan mereka, sehingga lagu dari artis tertentu tidak lagi muncul dalam rekomendasi algoritma, fitur autoplay, maupun daftar putar pribadi. Bagi Zara Larsson, fasilitas ini bukan sekadar alat teknis, melainkan sarana untuk menegaskan sikap dan nilai yang ia pegang. Ia menyatakan tidak ingin secara tidak langsung memberikan dukungan, baik dalam bentuk streaming, eksposur, maupun potensi royalti kepada artis yang menurutnya memiliki rekam jejak perilaku tidak etis, khususnya yang berkaitan dengan kekerasan dan pelecehan.

Nama Chris Brown menjadi sorotan dalam pernyataan Larsson karena riwayat kontroversinya di masa lalu. Pada 2009, Brown terlibat kasus kekerasan domestik terhadap Rihanna dan kemudian mengaku bersalah atas tuduhan penyerangan, sebuah peristiwa yang mendapat perhatian luas dari media internasional. Selain itu, hubungannya dengan mantan kekasihnya, Karrueche Tran, juga sempat menjadi tajuk berita setelah Tran memperoleh perintah perlindungan (restraining order) pada 2017. Rangkaian peristiwa tersebut membentuk persepsi publik yang kompleks terhadap Brown sebagai figur publik.

Sumber: gettyimages

Dalam konteks inilah Larsson memandang tindakan memblokir sebagai bentuk konsistensi moral. Baginya, mendengarkan musik di era streaming bukanlah tindakan netral; setiap klik dan putaran lagu memiliki implikasi ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, keputusan untuk memblokir artis tertentu menjadi simbol komitmen pribadi untuk tidak mengonsumsi, mempromosikan, ataupun berkontribusi pada keuntungan pihak yang ia nilai memiliki sejarah tindakan kekerasan atau pelecehan. Sikap ini sekaligus memicu diskusi lebih luas tentang etika konsumsi musik dan sejauh mana pendengar bertanggung jawab atas pilihan yang mereka buat di platform digital.

Chris Brown merupakan salah satu nama besar dalam industri R&B modern yang telah menorehkan berbagai pencapaian komersial sejak debutnya di pertengahan 2000-an. Dengan deretan lagu hit, kolaborasi bersama sejumlah artis papan atas, serta kemampuan menari dan performa panggung yang energik, Brown berhasil membangun reputasi sebagai entertainer multitalenta dan mempertahankan eksistensinya di tangga lagu internasional selama lebih dari satu dekade. Namun di balik kesuksesan tersebut, perjalanan kariernya kerap dibayangi oleh berbagai kontroversi pribadi yang memengaruhi citra publiknya. Pada 2009, ia mengaku bersalah atas tuduhan penyerangan terhadap Rihanna dalam kasus kekerasan domestik yang menyita perhatian global dan menjadi titik balik besar dalam persepsi publik terhadap dirinya.

Beberapa tahun kemudian, pada 2014, ia kembali terseret kasus misdemeanor assault di Washington, D.C., yang juga berujung pada pengakuan bersalah. Kontroversi berlanjut pada 2017 ketika mantan kekasihnya, Karrueche Tran, memperoleh perintah perlindungan (restraining order), menambah daftar panjang persoalan hukum dan hubungan bermasalah yang dikaitkan dengannya. Meski demikian, Brown tetap mempertahankan basis penggemar yang besar dan loyal, serta terus merilis karya yang mampu menembus chart musik, mencerminkan kompleksitas posisinya sebagai figur publik yang berada di persimpangan antara prestasi artistik dan rekam jejak kontroversial.

Sumber: gettyimages

Pernyataan tegas dari Zara Larsson mengenai keputusannya memblokir artis yang dianggap melakukan pelecehan, termasuk tidak memasukkan lagu Chris Brown ke dalam playlist pribadinya di Spotify telah memantik diskusi luas tentang nilai, etika, dan tanggung jawab dalam konsumsi musik di era digital. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa bagi sebagian musisi dan pendengar, aktivitas streaming bukan lagi sekadar hiburan atau preferensi selera, melainkan juga bentuk pernyataan sikap terhadap isu moral dan sosial yang melekat pada figur publik.

Melalui tindakannya, Larsson menegaskan bahwa kontrol personal atas pengalaman mendengarkan musik dapat menjadi refleksi prinsip yang diyakini seseorang. Di tengah perdebatan klasik tentang memisahkan karya dari penciptanya, langkah ini membuka ruang dialog yang lebih dalam mengenai bagaimana publik menilai artis, bagaimana industri merespons kontroversi, serta sejauh mana konsumen memiliki peran dalam menentukan arah budaya populer. Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, keputusan tersebut menandai perubahan cara pandang generasi digital terhadap musik bahwa setiap klik, streaming, dan playlist kini juga membawa dimensi etika yang tak bisa lagi diabaikan.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *