Cerita EJAE tentang Panic Attacks, Musik sebagai ‘Therapy,’ dan Keyakinannya pada HUNTR/X
Di tengah kerasnya persaingan industri musik global yang bergerak cepat dan penuh tekanan, perjalanan seorang artis jarang berjalan mulus. Di balik sorotan lampu panggung, gemuruh tepuk tangan, dan angka streaming yang fantastis, tersimpan dinamika emosional yang tidak selalu terlihat oleh publik. Seorang musisi bisa merasakan euforia luar biasa saat karyanya menembus tangga lagu, namun di saat yang sama harus bergulat dengan keraguan diri, kecemasan, bahkan ketakutan yang menghantui sebelum naik ke atas panggung. Dunia hiburan memang menawarkan popularitas dan pengakuan, tetapi juga menuntut ketahanan mental yang tak sedikit.
Kisah itulah yang kini mengemuka dari perjalanan EJAE, penyanyi dan penulis lagu yang namanya semakin bersinar di kancah internasional. Lewat proyek musik HUNTR/X dan lagu hit mereka, Golden, EJAE tak hanya mencuri perhatian karena prestasi musikalnya, tetapi juga karena keberaniannya membagikan sisi personal yang jarang diungkap seorang bintang. Perjalanannya menjadi bukti bahwa di balik kesuksesan global, ada proses panjang yang dipenuhi perjuangan emosional, refleksi diri, dan keyakinan kuat terhadap mimpi yang ingin diwujudkan.

Nama EJAE, yang memiliki nama lahir Kim Eun-jae, mulai mencuri perhatian publik internasional setelah keterlibatannya dalam soundtrack film animasi KPop Demon Hunters. Lewat lagu Golden yang dibawakan bersama grup HUNTR/X, trio yang juga beranggotakan Audrey Nuna dan Rei Ami namanya melesat sebagai salah satu figur baru yang diperhitungkan di industri musik global. “Golden” tak hanya menjadi lagu populer, tetapi juga fenomena besar yang berhasil menembus puncak tangga lagu Billboard Hot 100 serta mengumpulkan lebih dari satu miliar streaming dalam waktu relatif singkat. Pencapaian tersebut menempatkan EJAE dalam sorotan tajam media dan publik, memperkuat citranya sebagai bintang yang sedang naik daun dengan pengaruh yang kian meluas.
Namun, di balik pencapaian gemilang itu, tersimpan cerita perjuangan mental yang tidak ringan. Dalam penampilannya di The Jennifer Hudson Show, EJAE secara terbuka mengungkap pengalaman pribadinya menghadapi panic attacks, terutama menjelang debut penampilan besar pertamanya di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon. Ia mengaku merasa sangat kewalahan dan “freaked out” saat menyadari besarnya ekspektasi dan sorotan yang tertuju padanya, terlebih karena ia belum memiliki banyak pengalaman tampil di panggung berskala internasional.
Tekanan tersebut memicu serangan panik yang membuatnya harus berjuang menenangkan diri sebelum akhirnya tetap melangkah ke atas panggung. Pengakuan ini memperlihatkan sisi rapuh sekaligus keberanian EJAE sebagai seorang artis bahwa di balik kepercayaan diri yang terlihat di layar, ada proses panjang menghadapi rasa takut dan keraguan. Kisahnya menjadi pengingat kuat bahwa kesuksesan dan popularitas kerap berjalan berdampingan dengan tekanan mental yang signifikan, serta menegaskan pentingnya membuka ruang diskusi tentang kesehatan mental di industri hiburan yang selama ini sering menuntut kesempurnaan tanpa henti.
Bagi EJAE, menulis lagu bukan sekadar pekerjaan profesional atau kewajiban kreatif di studio rekaman, melainkan ruang aman untuk memproses emosi yang sulit diungkapkan secara langsung. Dalam sebuah wawancara, ia dengan jujur menyebut bahwa songwriting adalah bentuk terapi pribadinya. “Ultimately, songwriting is truly my form of therapy. And I love it”, ungkapnya, menegaskan bahwa proses kreatif yang ia jalani bukan hanya tentang menghasilkan karya untuk publik, tetapi juga tentang merawat dirinya sendiri. Pernyataan ini memperlihatkan bagaimana musik baginya berfungsi sebagai medium refleksi, tempat ia bisa membongkar kegelisahan, ketakutan, hingga pengalaman paling rapuh tanpa harus menyembunyikannya.

Makna tersebut terasa semakin kuat ketika menilik proses lahirnya lagu Golden yang dibawakannya bersama HUNTR/X. Lagu yang kemudian meledak secara global itu ternyata berangkat dari proses kreatif yang sangat personal. Dalam tahap demo awal, EJAE dikabarkan sempat menangis di studio karena begitu dalamnya emosi yang ia curahkan ke dalam lirik dan melodi. Ia tidak hanya menulis tentang kekuatan dan kemenangan, tetapi juga tentang keraguan, luka masa lalu, dan perjuangan menemukan cahaya di tengah tekanan. Momen tersebut menunjukkan bahwa di balik lagu yang terdengar megah dan penuh semangat, tersimpan cerita batin yang autentik.
Konsep musik sebagai terapi sejatinya telah lama dikenal, baik dalam ranah psikologi maupun praktik seni. Banyak musisi besar sepanjang sejarah mengakui bahwa proses menulis lagu membantu mereka menghadapi depresi, kehilangan, trauma, atau kecemasan yang membebani pikiran. Namun dalam konteks EJAE, narasi ini terasa relevan bagi generasi sekarang yang semakin terbuka membicarakan kesehatan mental. Dengan menjadikan musik sebagai alat penyembuhan diri, ia bukan hanya membangun karier, tetapi juga membangun ketahanan emosionalnya sendiri. Kisahnya memberi pesan kuat kepada pendengar bahwa kerentanan bukanlah kelemahan justru dari situlah lahir karya yang jujur, menyentuh, dan mampu menguatkan banyak orang yang mungkin sedang berjuang dalam diam.
Kesuksesan yang kini diraih EJAE bukanlah hasil dari perjalanan singkat atau keberuntungan semata, melainkan buah dari proses panjang yang dipenuhi tantangan identitas, penolakan, dan ketekunan. Lahir di Korea Selatan dan tumbuh besar di Amerika Serikat, EJAE sempat berada di persimpangan budaya yang tidak selalu mudah. Di masa remajanya, kecintaannya pada K-pop justru membuatnya menjadi bahan ejekan di lingkungan sekitar, pada saat genre tersebut belum diterima luas di Barat. Namun waktu membuktikan perubahan besar, K-pop kini menjelma menjadi fenomena global dengan basis penggemar internasional yang masif. Bagi EJAE, transformasi ini bukan sekadar tren industri, melainkan validasi atas identitas dan kecintaan budaya yang sejak awal ia pertahankan dengan bangga.

Perjalanan kariernya pun jauh dari kata instan. Sebelum dikenal lewat lagu Golden bersama HUNTR/X, EJAE menghabiskan lebih dari satu dekade sebagai trainee di sistem pelatihan K-pop yang terkenal ketat dan kompetitif. Ia pernah mengalami penolakan dari agensi besar karena dianggap tidak sepenuhnya sesuai dengan standar visual maupun konsep industri saat itu. Alih-alih menyerah, pengalaman tersebut justru membentuk mentalnya menjadi lebih tangguh dan adaptif. Dari situ, ia mulai menemukan kekuatan lain dalam dirinya, kemampuan menulis lagu. Bakatnya sebagai songwriter kemudian membawanya bekerja di balik layar untuk sejumlah grup ternama seperti Red Velvet, TWICE, dan aespa. Kontribusinya di balik layar tidak hanya memperluas pengalamannya di industri, tetapi juga mengasah kepekaan artistik yang akhirnya menjadi fondasi kuat saat ia melangkah kembali ke depan panggung sebagai performer. Perjalanan penuh liku ini membuktikan bahwa ketekunan, fleksibilitas, dan keyakinan pada diri sendiri dapat membuka jalan baru, bahkan ketika pintu pertama yang diketuk tidak terbuka.
Salah satu hal yang paling memicu rasa penasaran publik adalah masa depan HUNTR/X, grup K-pop yang pertama kali diperkenalkan kepada dunia lewat film animasi KPop Demon Hunters. Pada awal kemunculannya, banyak yang menganggap HUNTR/X sebatas proyek fiksi yang diciptakan untuk kepentingan cerita. Namun dalam wawancara terbarunya, EJAE menepis anggapan tersebut dengan penuh keyakinan. Ia menyatakan bahwa sejak awal dirinya tidak pernah melihat HUNTR/X sebagai grup fiksi. Baginya, mereka adalah grup K-pop sungguhan yang “debut” melalui medium film, sebuah cara perkenalan yang kreatif dan tidak konvensional. Pernyataan, “I never thought we were a fictional K-pop group; I think we were a K-pop group that debuted in a movie” menjadi penegasan bahwa proyek ini memiliki fondasi artistik yang serius, bukan sekadar eksperimen sementara.
Keyakinan tersebut tentu memantik harapan besar dari penggemar di berbagai belahan dunia. Banyak yang melihat potensi HUNTR/X untuk berkembang melampaui layar animasi dan soundtrack film, menjadi entitas musik aktif dengan rilisan baru, promosi, hingga tur global. Konsep ini bukan hanya menarik secara artistik, tetapi juga mencerminkan strategi inovatif dalam industri hiburan modern, di mana batas antara dunia fiksi dan realitas semakin kabur, dan narasi kreatif dapat menjadi pintu masuk menuju eksistensi nyata di pasar musik global.
Tanda-tanda bahwa HUNTR/X bukan sekadar proyek satu kali pun mulai terlihat. Grup ini telah tampil secara langsung di panggung besar seperti The Tonight Show Starring Jimmy Fallon, memperkenalkan lagu Golden kepada audiens televisi internasional. Selain itu, mereka juga hadir dalam ajang bergengsi BAFTA Awards 2026, membawakan “Golden” secara live di hadapan industri perfilman dunia. Penampilan-penampilan ini memperkuat persepsi bahwa HUNTR/X tengah melangkah keluar dari konsep awalnya sebagai grup dalam film, menuju realitas sebagai fenomena musik global yang berdiri dengan identitasnya sendiri.

Lagu Golden tidak hanya mencatatkan kesuksesan impresif dari sisi angka streaming maupun performa di tangga lagu, tetapi juga meninggalkan jejak emosional yang mendalam bagi para pendengarnya. Dibawakan oleh HUNTR/X dengan kontribusi kuat dari EJAE, lagu ini mengangkat tema tentang ketangguhan, keberanian menghadapi ketakutan, dan proses menemukan jati diri setelah melewati masa-masa sulit. Liriknya berbicara tentang keluar dari bayang-bayang masa lalu, berdamai dengan luka, serta memilih untuk bersinar tanpa lagi terkungkung rasa ragu. Pesan tersebut terasa universal melampaui batas bahasa dan budaya, sehingga mudah terhubung dengan pengalaman banyak orang di berbagai belahan dunia yang pernah merasa tidak cukup, tidak terlihat, atau tidak percaya diri.
Dampaknya pun meluas jauh melampaui statusnya sebagai soundtrack film. Golden berkembang menjadi simbol global tentang bagaimana musik mampu menjembatani perbedaan latar belakang, menyatukan pengalaman personal, dan menerjemahkan emosi yang sering kali sulit diungkapkan dengan kata-kata biasa. Lagu ini menunjukkan bahwa karya yang lahir dari kejujuran emosional memiliki daya jangkau yang lebih kuat dibanding sekadar formula komersial. Tak mengherankan jika kesuksesannya turut mendapat perhatian dari institusi penghargaan bergengsi seperti Grammy Awards dan Golden Globe Awards, baik dalam bentuk nominasi maupun pengakuan lain yang menegaskan posisinya sebagai salah satu karya pop paling berpengaruh dalam periode perilisannya. Pada akhirnya, Golden bukan sekadar lagu populer ia menjelma menjadi representasi keberanian untuk bangkit dan bersinar, pesan yang relevan dan menginspirasi lintas generasi.

Perjalanan EJAE menjadi pengingat kuat bahwa di balik lagu yang menduduki puncak tangga lagu dan sorotan panggung internasional, selalu ada proses emosional yang tidak sederhana. Kesuksesan tidak datang tanpa pergulatan batin. Dari pengalaman menghadapi panic attacks di awal karier panggungnya hingga keberaniannya berbicara terbuka tentang kesehatan mental, EJAE menunjukkan bahwa kerentanan bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari proses bertumbuh. Ia menemukan bahwa menulis lagu adalah ruang aman, sebuah terapi personal yang membantunya memahami, menerima, dan mengolah emosi yang kompleks. Melalui karya seperti Golden, ia membuktikan bahwa musik dapat melampaui fungsi hiburan dan berubah menjadi medium penyembuhan sekaligus ekspresi diri yang paling jujur.
Lebih dari itu, keyakinannya terhadap masa depan HUNTR/X memperlihatkan bagaimana kreativitas mampu menembus batas konvensional industri hiburan. Apa yang awalnya diperkenalkan lewat film KPop Demon Hunters kini berkembang menjadi entitas musik yang diakui secara global. Fenomena ini menunjukkan bahwa garis antara dunia fiksi dan realitas semakin cair di era modern, terutama ketika didukung kolaborasi kuat, visi artistik yang jelas, dan respons antusias dari penggemar internasional. Dengan transformasi tersebut, HUNTR/X bukan hanya proyek kreatif semata, melainkan simbol perubahan lanskap budaya pop global sebuah contoh bagaimana inovasi naratif dan kekuatan musik dapat membuka kemungkinan baru bagi masa depan industri.