| |

Lagu ‘Cendana’ oleh Aruma yang Menghidupkan Kembali Kenangan Lewat Wangi dan Melodi

Musik dan memori punya ikatan yang tak pernah bisa dipisahkan satu nada mampu membangkitkan bayangan masa lalu, satu aroma mampu memanggil kembali rasa yang pernah padam. Dalam single terbarunya berjudul “Cendana”, Aruma dengan lembut meramu dua elemen itu menjadi satu pengalaman musikal yang begitu personal dan menyentuh. Ia tidak sekadar menghadirkan lagu bernuansa sendu, tetapi menciptakan ruang perenungan di mana pendengar diajak menelusuri hubungan antara suara, wangi, dan kenangan yang tertinggal di sudut hati.

Di tangan Aruma, “Cendana” bukan hanya lagu tentang kehilangan, cinta, atau rindu yang tak tersampaikan melainkan sebuah potret emosional tentang bagaimana kenangan bisa hidup kembali hanya karena satu hal kecil yang memicu indera. Wangi cendana menjadi simbol dari masa lalu yang tak lekang oleh waktu, aroma yang terus terbayang meski sosoknya telah pergi. Melodi yang lembut dan vokal Aruma yang penuh kehangatan membuat sensasi nostalgia itu terasa nyata, seolah setiap bait lagu adalah serpihan kenangan yang perlahan tercium kembali.

Sumber: Instagram/arumands

Lebih dari sekadar karya musik, “Cendana” adalah perjalanan sensori di mana pendengar tak hanya mendengar, tetapi juga merasakan. Aruma mengajak kita menyadari betapa kuatnya hubungan antara aroma, melodi, dan ingatan: bahwa kadang yang membuat kita teringat bukanlah kata-kata, melainkan sesuatu yang sederhana seperti bau kayu, udara sore, atau nada yang tiba-tiba terasa akrab.

Pada 8 Oktober 2025, Media Indonesia memberitakan bahwa Aruma resmi merilis single terbarunya berjudul “Cendana”. Lagu ini digambarkan sebagai sebuah karya yang “mengkreasikan aroma kenangan dari hubungan cinta yang belum usai”. Menurut siaran persnya, inspirasi lagu ini muncul dari sosok di masa lalu yang memiliki aroma tubuh khas wangi yang begitu melekat hingga akhirnya menjelma menjadi judul lagu itu sendiri.

Aruma mengungkapkan bahwa “Cendana” ditulis hanya dalam satu malam, namun proses penyempurnaan dan produksinya memakan waktu hingga satu setengah tahun. Perjalanan panjang itu melibatkan berbagai tahap workshop, lokakarya, serta kolaborasi intens bersama tim A&R Sony Music. Dalam proses kreatifnya, Aruma menggandeng Petra Sihombing sebagai produser sekaligus penulis lagu pendamping, dan keduanya memilih Bali sebagai lokasi penyempurnaan aransemen agar lagu ini terdengar lebih matang, tenang, dan mengalir secara alami.

Sebelumnya, Aruma dikenal lewat gaya musik pop dan pop-folk yang ringan serta penuh emosi. Namun dalam “Cendana”, ia memilih untuk mengeksplorasi nuansa yang lebih lembut, atmosferik, dan reflektif menjadikannya titik peralihan yang menarik antara karakter musik lamanya dan arah baru yang kini mulai ia bentuk.

Dengan demikian, “Cendana” hadir bukan hanya sebagai karya yang sangat pribadi, tetapi juga sebagai langkah strategis dalam perjalanan karier Aruma. Ia berhasil membuktikan bahwa inovasi bisa dilakukan tanpa harus kehilangan identitas musikal yang telah membuatnya dicintai banyak pendengar.

Pemilihan kata “cendana” sebagai judul menjadi salah satu kekuatan utama dalam lagu ini. Cendana dikenal sebagai kayu aromatik yang khas hangat, manis, dan lembut dengan aroma yang mampu bertahan lama di indera penciuman. Dalam konteks lagu, wangi cendana menjadi simbol dari kenangan yang tetap melekat, bahkan ketika sosok yang dikenang telah pergi jauh.

Aruma menjelaskan bahwa aroma sering kali menjadi bentuk memori paling kuat; sekali tercium, wangi tertentu bisa langsung memunculkan kembali momen, perasaan, bahkan bayangan seseorang di masa lalu. Karena itu, judul “Cendana” bukan hanya merujuk pada bau kayunya secara harfiah, tetapi juga berfungsi sebagai lambang dari memori yang membekas dalam hati memori yang tak mudah hilang meski waktu terus berjalan.

Sumber: Instagram/arumands

Secara psikologis, metafora aroma dalam lagu ini memiliki kedalaman makna. Indera penciuman manusia memang terhubung langsung dengan bagian otak yang mengatur emosi dan ingatan, yaitu sistem limbik. Hubungan inilah yang membuat aroma mampu membangkitkan perasaan dan citra masa lalu secara spontan. Melalui pendekatan simbolik itu, “Cendana” bekerja bukan hanya sebagai lagu yang didengar, tetapi juga sebagai pengalaman sensori yang membangkitkan gambar, suasana, dan emosi yang tersebar di dalam kenangan pendengarnya.

Tema utama lagu “Cendana” berpusat pada sosok yang belum sepenuhnya mampu melepaskan masa lalunya. Kenangan tentang aroma tertentu menjadi pengikat emosional yang kuat seperti bahan bakar bagi hati yang masih menyala meski waktu telah berlalu. Aruma tidak mengekspresikan kisah ini melalui lirik yang dramatis atau melankolis berlebihan; sebaliknya, ia memilih narasi yang lembut dan reflektif, dengan diksi yang sederhana namun menyentuh seperti “aroma itu”, “ingatku kembali”, dan “apakah kita tetap di sini atau pergi”.

Dalam salah satu unggahan promosi di Instagram, Aruma bahkan menegaskan makna emosional lagu ini dengan pertanyaan puitis: “Sekarang, gimana jadinya, masih ingin menetap, atau pergi?”

Konflik emosional dalam “Cendana” hadir dalam bentuk dilema batin antara tetap hidup dalam kenangan atau berani melepaskan masa lalu. Lirik-liriknya menyoroti ruang bimbang itu di satu sisi, ada keinginan untuk mempertahankan kenangan karena keindahan aroma yang melekat, namun di sisi lain, ada kesadaran bahwa aroma itu justru bisa melukai bila terus dijadikan pengikat.

Baris-baris kunci yang menyinggung aroma dan memori diulang secara halus di sepanjang lagu, menciptakan efek refrain yang berfungsi sebagai pengingat bahwa kenangan, betapapun berusaha dilupakan, tetap menemukan cara untuk hadir kembali. Pengulangan ini memperkuat kesan bahwa perasaan yang tertinggal tidak selalu disadari, tetapi terus berputar di alam bawah sadar.

Pendekatan naratif yang digunakan Aruma juga menarik karena tidak hanya mengandalkan deskripsi visual seperti “wajah” atau “tatapan”, melainkan menghadirkan elemen aroma sebagai jembatan antara pengalaman dan memori. Teknik ini membuat “Cendana” terasa lebih dalam secara emosional, karena ia bekerja pada lapisan sensori yang jarang dieksplorasi dalam lagu-lagu pop Indonesia. Dengan cara ini, Aruma tidak sekadar menceritakan rindu, tetapi menghidupkannya kembali melalui wangi yang menyentuh indera dan hati sekaligus.

“Cendana” oleh Aruma adalah bukti bahwa musik bukan hanya soal melodi manis atau lirik indah musik bisa menjadi pengalaman sensorik penuh gagasan. Dengan mengambil aroma sebagai simbol memori, Aruma berhasil menyambungkan aspek emosi dan indera dalam satu karya. Proses kreatif yang panjang, kolaborasi matang, dan pendekatan produksi yang terukur menjadikan lagu ini bukan sekadar rilis, melainkan karya reflektif yang bernyawa.

Melalui Cendana, pendengar diajak menyusuri ruang kenangan: aroma masa lalu yang belum hilang, melodi yang menuntun masuk ke dalam jiwa, dan kesadaran bahwa memori terkadang tak usai, melainkan terus mengalir bersama kehidupan. Lagu ini meninggalkan kesan bahwa suatu wangi seperti cendana bisa menjadi jendela ke masa lalu, dan musiklah yang membuka tirainya.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *