Jesy Nelson Ungkap Member Little Mix Lainnya Pernah Ingin Keluar Sebelum Dirinya, “I Was Just Devastated”
Jesy Nelson, mantan personel girl group populer Little Mix, baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan dalam docuseries terbarunya, Jesy Nelson: Life After Little Mix. Dalam seri dokumenter tersebut, ia tak hanya membahas perjalanan karier solonya setelah keluar dari grup, tetapi juga mengupas secara jujur dinamika internal yang terjadi menjelang kepergiannya pada 2020.
Untuk pertama kalinya, Jesy mengungkap bahwa sebelum dirinya resmi hengkang, ternyata ada satu anggota Little Mix lain yang sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan grup lebih dulu. Fakta ini, menurut pengakuannya, benar-benar membuatnya terpukul. Ia menggambarkan momen itu sebagai sesuatu yang “devastating” atau sangat menghancurkan secara emosional, karena di saat ia sendiri sedang berjuang dengan kesehatan mental dan tekanan publik, ia baru menyadari bahwa kondisi internal grup ternyata lebih rapuh dari yang ia bayangkan.
Dalam dokumenter tersebut, Jesy menjelaskan bahwa kabar itu membuatnya mempertanyakan banyak hal, mulai dari kekuatan persahabatan mereka hingga masa depan grup yang telah mereka bangun bersama sejak memenangkan The X Factor pada 2011. Selama bertahun-tahun, Little Mix dikenal dengan citra sisterhood yang kuat di hadapan publik. Namun di balik layar, masing-masing anggota ternyata menghadapi tekanan industri musik, ekspektasi tinggi, dan beban emosional yang tidak selalu terlihat.

Jesy juga menekankan bahwa keputusannya untuk keluar bukanlah langkah yang diambil secara tiba-tiba. Ia mengaku telah mengalami kecemasan berat dan serangan panik, terutama menjelang penampilan atau proses rekaman. Ketika mengetahui bahwa ada anggota lain yang pernah merasa ingin pergi, ia merasa campur aduk, antara sedih, kecewa, dan semakin sadar bahwa setiap orang di grup itu mungkin memendam perjuangannya masing-masing.
Pengakuan ini pun memberikan perspektif baru terhadap narasi kepergiannya. Selama ini, banyak publik menilai keputusan Jesy sebagai keputusan personal semata. Namun melalui docuseries tersebut, ia ingin menunjukkan bahwa dinamika sebuah grup musik besar tidak sesederhana yang terlihat dari luar. Ada komunikasi yang rumit, perasaan yang terpendam, serta tekanan eksternal yang terus menerus memengaruhi hubungan antaranggota.
Dengan membuka cerita ini, Jesy Nelson seolah ingin menegaskan bahwa di balik gemerlap panggung dan kesuksesan global Little Mix, ada sisi manusiawi yang jarang tersorot tentang kerentanan, kesehatan mental, dan realita menjadi bagian dari industri hiburan berskala internasional.
Little Mix dibentuk pada tahun 2011 melalui ajang pencarian bakat The X Factor di Inggris, ketika Jesy Nelson, Perrie Edwards, Jade Thirlwall, dan Leigh-Anne Pinnock digabungkan menjadi satu grup dan akhirnya keluar sebagai juara, menjadikan mereka girl group pertama yang memenangkan kompetisi tersebut. Kemenangan itu menjadi titik awal perjalanan gemilang yang membawa mereka ke panggung musik internasional, dengan sederet album sukses dan lagu-lagu hit seperti Wings, Shout Out to My Ex, dan Sweet Melody yang mendominasi tangga lagu di berbagai negara. Dikenal dengan harmonisasi vokal yang kuat, koreografi enerjik, serta pesan pemberdayaan perempuan yang konsisten diusung dalam setiap karya, Little Mix menjelma menjadi simbol girl power modern dan salah satu girl group dengan penjualan terbaik dalam satu dekade terakhir.

Popularitas mereka meluas tak hanya di Inggris, tetapi juga di Eropa, Asia, hingga Amerika, didukung tur dunia yang selalu sold out dan basis penggemar loyal yang besar. Namun di balik gemerlap panggung, jadwal padat, dan citra sisterhood yang solid di depan publik, perjalanan mereka tidak selalu berjalan mulus; tekanan industri musik, ekspektasi tinggi, serta sorotan media yang intens perlahan menghadirkan tantangan internal, terutama bagi Jesy Nelson, yang kemudian secara terbuka mengungkap bagaimana beban tersebut memengaruhi kesehatan mental dan hubungannya dengan grup.
Keputusan Jesy Nelson untuk resmi meninggalkan Little Mix pada Desember 2020 bukanlah langkah yang diambil secara tiba-tiba, melainkan hasil dari pergulatan panjang dengan tekanan emosional dan masalah kesehatan mental yang semakin berat dari tahun ke tahun. Sejak awal kariernya, Jesy kerap menjadi sasaran komentar negatif di media sosial dan pemberitaan paparazzi yang mengkritik penampilan fisiknya, sesuatu yang secara perlahan mengikis rasa percaya dirinya. Sorotan publik yang tak pernah berhenti itu memicu kecemasan kronis dan serangan panik, terutama menjelang penampilan langsung atau proses syuting video musik. Dalam dokumenter terbarunya, Jesy Nelson: Life After Little Mix, ia berbicara dengan jujur tentang bagaimana tekanan tersebut membuatnya merasa terperangkap dalam rutinitas yang tak lagi sanggup ia jalani secara emosional. Jesy mengungkap bahwa kecemasan parah yang dialaminya membuat aktivitas yang dulu ia cintai, bernyanyi dan tampil di atas panggung justru berubah menjadi sumber ketakutan. Situasi semakin kompleks ketika rencana tur dan promosi grup terganggu oleh pandemi COVID-19, memperpanjang masa ketidakpastian dan memperburuk kondisi mentalnya karena ia harus terus berada dalam tekanan tanpa jeda yang jelas.
Pada titik tertentu, ia menyadari bahwa dirinya “tidak lagi ingin berada di sana”, bukan karena kehilangan cinta terhadap musik, tetapi karena beban psikologis yang terasa terlalu berat untuk dipikul. Ia juga mengaku telah mencoba mengungkapkan perasaannya kepada rekan-rekannya di grup, berharap mendapat pemahaman dan dukungan emosional yang lebih kuat. Namun, menurut pengakuannya, ia merasa respons yang diterimanya belum sepenuhnya menjawab kebutuhan batinnya saat itu. Semua faktor tersebut akhirnya bermuara pada satu keputusan besar memilih mundur demi menyelamatkan kesehatan mentalnya, meski itu berarti meninggalkan grup yang telah membesarkan namanya di industri musik global.
Salah satu bagian paling mengejutkan dalam Jesy Nelson: Life After Little Mix adalah ketika Jesy Nelson mengungkap bahwa ternyata ada seorang anggota Little Mix lain yang sempat mempertimbangkan untuk hengkang sebelum dirinya mengambil keputusan serupa. Fakta ini terungkap dalam sebuah pertemuan internal yang ia hadiri, di mana manajemen dan anggota grup membahas masa depan mereka. Dalam momen tersebut, Jesy mengaku diberi tahu bahwa salah satu rekannya yang hingga kini tidak ia sebutkan secara terbuka pernah menyampaikan keinginan untuk keluar lebih dulu. Informasi itu, menurut Jesy, benar-benar mengguncang emosinya karena selama ini ia merasa dirinya adalah satu-satunya yang berada di titik paling rapuh. Mengetahui bahwa ada anggota lain yang juga mempertimbangkan langkah serupa membuatnya sadar bahwa kondisi grup sebenarnya jauh lebih rentan daripada yang terlihat di permukaan.

Jesy menggambarkan perasaannya saat itu sebagai “devastated” atau sangat terpukul. Ia merasa hancur bukan hanya karena fakta tersebut, tetapi juga karena menyadari bahwa fondasi sisterhood yang selama ini menjadi kekuatan utama Little Mix ternyata sedang diuji oleh tekanan yang mungkin tidak semua orang pahami. Di satu sisi, ia tengah berjuang menghadapi kecemasan, serangan panik, dan tekanan publik yang intens; di sisi lain, ia tetap berusaha menjaga profesionalisme di hadapan penggemar, tim produksi, dan media. Mendengar bahwa ada anggota lain yang juga ingin pergi membuatnya mempertanyakan seberapa besar beban yang sebenarnya dipikul masing-masing personel. Pengakuan ini pun membuka perspektif baru bahwa dinamika internal sebuah grup besar tidak pernah sesederhana yang terlihat di balik kesuksesan, ada keraguan, kelelahan emosional, dan pergulatan pribadi yang kerap tersembunyi dari sorotan publik.
Setelah kepergian Jesy Nelson pada akhir 2020, Little Mix memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan mereka sebagai trio yang terdiri dari Perrie Edwards, Jade Thirlwall, dan Leigh-Anne Pinnock. Meski sempat dihadapkan pada spekulasi publik mengenai masa depan grup, ketiganya menunjukkan profesionalisme dengan tetap mempromosikan musik, merilis materi baru, dan menyelesaikan komitmen yang telah dijadwalkan. Mereka bahkan melanjutkan proyek album Confetti dalam format trio serta menjalankan tur yang sebelumnya tertunda akibat pandemi, yang kemudian menjadi momen emosional bagi para penggemar karena menjadi rangkaian penampilan terakhir mereka sebelum vakum.
Sebagai trio, Little Mix tetap mempertahankan identitas harmonisasi vokal kuat dan energi panggung yang menjadi ciri khas mereka, sekaligus membuktikan bahwa mereka mampu beradaptasi dengan formasi baru. Namun pada tahun 2021, grup ini mengumumkan keputusan untuk mengambil hiatus demi memberi ruang bagi masing-masing anggota mengejar karier solo dan fokus pada kehidupan pribadi. Keputusan tersebut ditegaskan sebagai jeda sementara, bukan perpisahan permanen, sehingga membuka kemungkinan reuni di masa depan. Sejak saat itu, Perrie, Jade, dan Leigh-Anne mulai mengeksplorasi proyek individu di industri musik dan hiburan, menandai babak baru dalam perjalanan mereka setelah satu dekade mendominasi panggung pop global bersama Little Mix.

Pengakuan Jesy Nelson bahwa ada anggota Little Mix yang sempat ingin keluar sebelum dirinya menghadirkan perspektif baru terhadap narasi lama seputar keputusannya hengkang pada 2020. Selama ini, publik cenderung melihat kepergian Jesy semata-mata sebagai keputusan personal yang dipicu oleh tekanan media sosial dan masalah kesehatan mental. Namun, fakta bahwa ada anggota lain yang juga pernah mempertimbangkan langkah serupa menunjukkan bahwa dinamika internal grup jauh lebih kompleks dari yang tampak di permukaan. Di balik kesuksesan global, tur besar, dan citra sisterhood yang kuat, ternyata terdapat tekanan mental, tantangan profesional, serta hubungan interpersonal yang terus diuji oleh ekspektasi industri hiburan.
Meski spekulasi tentang siapa sosok yang dimaksud terus berkembang di kalangan penggemar, inti dari pengakuan ini bukanlah soal identitas, melainkan dampak emosional yang dirasakan Jesy saat mengetahui kenyataan tersebut. Ia merasa sangat terpukul karena selama ini berjuang dalam diam, menghadapi kecemasan dan keraguan tanpa sepenuhnya menyadari bahwa rekan satu grupnya pun mungkin memikul beban serupa. Cerita ini menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap panggung dan sorotan kamera, para musisi juga manusia yang rentan. Lebih luas lagi, kisah ini menyoroti pentingnya komunikasi terbuka, empati, dan dukungan emosional dalam sebuah grup, terutama ketika menghadapi tekanan besar secara kolektif. Kejujuran Jesy akhirnya membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang kesehatan mental di industri musik dan realitas yang kerap tersembunyi di balik kesuksesan.