| |

Film Korea Terbaru Park Chan-wook “No Other Choice” Ungkap Kisah Ayah yang Terperosok dalam Kegelapan

Sutradara kenamaan Korea Selatan Park Chan-wook kembali menggemparkan dunia perfilman internasional dengan karya terbarunya berjudul No Other Choice. Film ini menegaskan reputasinya sebagai salah satu pembuat film paling visioner di Asia, dengan kemampuan luar biasa menggabungkan estetika visual yang memukau dan tema sosial yang menggigit.

Dalam proyek terbarunya ini, Park tidak hanya menyajikan drama psikologis berbalut satire gelap, tetapi juga menghadirkan refleksi tajam tentang keterasingan, tekanan ekonomi, dan kehilangan makna hidup di tengah modernitas yang kejam. Ceritanya berpusat pada pergulatan batin seorang ayah yang kehilangan pekerjaan, sekaligus kehilangan kendali atas dirinya sendiri sebuah metafora universal tentang kehancuran moral dan identitas manusia di bawah tekanan sistem sosial yang menuntut kesempurnaan.

Diputar perdana di Venice International Film Festival 2025, No Other Choice langsung menuai tepuk tangan panjang dari para kritikus dan penonton. Banyak yang menyebut film ini sebagai kembalinya Park Chan-wook ke bentuk terbaiknya setelah kesuksesan Decision to Leave (2022). Dengan skor sempurna 100 persen di Rotten Tomatoes, film ini menandai bukan hanya pencapaian sinematik yang gemilang, tetapi juga momen penting bagi sinema Korea di panggung global. Gaya visual yang elegan, naskah yang penuh lapisan makna, serta penampilan brilian Lee Byung-hun dan Son Ye-jin menjadikan No Other Choice sebagai salah satu film paling dibicarakan tahun ini karya yang menggugah, menantang, sekaligus menggetarkan secara emosional.

“No Other Choice” mengisahkan Man-su (diperankan oleh Lee Byung-hun), seorang pria paruh baya yang telah mengabdikan diri selama puluhan tahun di sebuah perusahaan kertas. Hidupnya tampak sempurna memiliki keluarga bahagia, rumah nyaman, dan pekerjaan tetap yang memberinya rasa aman. Namun, segalanya berubah drastis ketika ia tiba-tiba dipecat tanpa alasan yang jelas.

Sumber: Headlines.Id

Pemecatan tersebut menjadi titik balik dalam hidup Man-su, membuatnya kehilangan rasa percaya diri, status sosial, dan terutama identitasnya sebagai kepala keluarga. Dalam tekanan ekonomi dan sosial yang semakin menjerat, Man-su mulai mengambil keputusan-keputusan ekstrem demi mempertahankan harga diri dan martabatnya.

Park Chan-wook menggambarkan perjalanan moral seorang pria yang perlahan kehilangan pijakan hidupnya dengan sangat intens dan penuh lapisan emosi. Dalam trailer perdananya, penonton disuguhkan fragmen-fragmen ketegangan yang menggambarkan dunia Man-su yang kian runtuh dari ruang kantor yang dingin dan tak berperasaan, konflik rumah tangga yang memanas, hingga adegan penuh emosi yang memperlihatkan dirinya berdiri di antara pilihan moral dan dorongan gelap yang terus menguasai batinnya. “Saya ingin menyoroti ironi di balik kerja keras manusia modern: kita berjuang mati-matian untuk stabilitas, tapi justru sistem yang kita bangun sendiri sering menghancurkan kita”, ujar Park Chan-wook dalam wawancaranya dengan The Korea Times.

Cerita film ini diadaptasi dari novel The Ax (1997) karya Donald E. Westlake, yang sebelumnya juga pernah difilmkan oleh sutradara Prancis, Costa-Gavras. Namun, Park Chan-wook membawa kisah ini ke konteks Korea masa kini dunia kerja yang semakin tidak pasti, meningkatnya otomatisasi, dan tekanan sosial terhadap peran kepala keluarga.

Dalam versi Park, latar sosial-ekonomi Korea menjadi penting. Ia menambahkan elemen baru seperti pengaruh kecerdasan buatan (AI) dalam dunia kerja dan fenomena PHK massal, sehingga kisah ini terasa relevan dengan realitas global.

Menurut Reuters, Park Chan-wook telah memendam proyek ini selama lebih dari 20 tahun. Ia mengaku baru merasa waktunya tepat ketika kondisi ekonomi global mulai memperlihatkan gejala yang sama seperti yang digambarkan dalam novelnya: manusia makin rentan di tengah sistem yang terlalu rasional.

Film ini bukan sekadar drama tragedi biasa. Park Chan-wook dengan cermat menggabungkan elemen dark comedy yang membuat penonton menertawakan absurditas hidup Man-su, meski di balik tawa itu tersimpan kegetiran yang mendalam. Dengan gaya khasnya, sang sutradara berhasil menghadirkan kisah yang mengundang empati sekaligus rasa tidak nyaman sebuah perpaduan emosi yang menjadi ciri khas karya-karyanya selama ini.

Sutradara yang dikenal lewat film-film ikonik seperti Oldboy (2003), The Handmaiden (2016), dan Decision to Leave (2022) ini kembali memperlihatkan keahliannya dalam memadukan kekerasan visual, simbolisme estetis, dan satire sosial yang tajam. Dalam beberapa adegan, ia menyelipkan humor hitam di tengah situasi yang tragis dan mengerikan, menciptakan pengalaman menonton yang kontradiktif namun justru semakin menggugah. Park menyebut pendekatan ini sebagai bentuk “humor tragis”, yaitu cara untuk membantu penonton merefleksikan sisi ironis dari kehidupan modern tanpa merasa terlalu terbebani oleh kesedihan yang ditampilkan.

Sumber: IDN Times

“Kita sering tertawa bukan karena sesuatu itu lucu, tetapi karena kita tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap penderitaan”, ujar Park Chan-wook dalam wawancaranya dengan The Korea Times. Kalimat tersebut merangkum semangat utama No Other Choice sebuah film yang menantang batas antara tragedi dan komedi, memperlihatkan betapa tipisnya garis antara kegilaan dan kemanusiaan dalam dunia yang serba menuntut.

Lee Byung-hun dan Son Ye-jin menjadi pusat kekuatan emosional dalam film ini, menghadirkan penampilan yang begitu kuat dan memikat hingga sulit dilupakan. Lee Byung-hun tampil luar biasa sebagai Man-su, sosok ayah yang lembut namun perlahan berubah menjadi pria tertekan dan obsesif.

Dengan pengendalian emosi yang presisi dan ekspresi wajah yang intens, ia menampilkan transformasi psikologis yang kompleks dari ketenangan menuju kekacauan batin. Banyak kritikus menyebut perannya sebagai “brilian dan menyakitkan”, karena Lee mampu menyeimbangkan sisi manusiawi dan sisi gelap karakternya dengan sangat meyakinkan.

Sementara itu, Son Ye-jin berperan sebagai sang istri, karakter yang hangat namun tak berdaya menyaksikan suaminya perlahan kehilangan kendali atas hidupnya. Ia menjadi jangkar emosional dalam cerita simbol dari cinta, kesabaran, dan suara hati yang terus berusaha menarik Man-su kembali ke jalan semula. Penampilannya memberikan kontras lembut di tengah atmosfer film yang suram dan menegangkan, menjadikan dinamika hubungan keduanya terasa begitu nyata dan memilukan.

Selain duet utama tersebut, No Other Choice juga menampilkan jajaran aktor pendukung papan atas seperti Park Hee-soon, Yeom Hye-ran, dan Cha Seung-won. Kehadiran mereka memperkaya dinamika antar tokoh dan mempertegas kompleksitas sosial dalam kisah ini menjadikan film ini bukan hanya tontonan emosional, tetapi juga potret tajam masyarakat Korea modern yang penuh tekanan dan kontradiksi.

Tema utama film ini adalah ketidakamanan kerja sesuatu yang makin terasa nyata di zaman modern. Ketika pekerjaan hilang, bukan hanya sumber pendapatan yang lenyap, tetapi juga rasa harga diri dan tujuan hidup. Park Chan-wook menyoroti bagaimana sistem ekonomi modern membuat manusia terjebak dalam kompetisi yang kejam. Loyalitas, moralitas, bahkan kemanusiaan bisa hilang demi bertahan hidup.

Film ini juga mengangkat isu peran gender dan ekspektasi sosial. Dalam budaya Korea (dan Asia pada umumnya), seorang ayah sering dianggap pilar utama keluarga. Ketika ia kehilangan kemampuan untuk menafkahi, ada tekanan sosial yang sangat besar dan disinilah Park menggali tragedi psikologis Man-su. Sementara itu, elemen AI dan otomatisasi memberikan lapisan tambahan: menggambarkan dunia di mana manusia mulai digantikan oleh mesin, dan rasa “tidak lagi dibutuhkan” menjadi sumber penderitaan baru.

Setelah tayang perdana di Venice International Film Festival 2025, No Other Choice langsung disambut tepuk tangan meriah selama lebih dari 10 menit, menandakan antusiasme luar biasa dari penonton dan kritikus internasional. Banyak pihak menyebut film ini sebagai “satire paling relevan dekade ini”, berkat cara Park Chan-wook mengolah isu sosial dan psikologis menjadi tontonan yang memikat sekaligus menggugah pikiran.

Kesuksesan tersebut berlanjut ketika No Other Choice terpilih sebagai film pembuka Busan International Film Festival ke-30, memperkuat posisinya sebagai salah satu film Korea paling penting dan paling berpengaruh tahun ini. (Sumber: SBS Star, UPI, The Korea Times). Di situs aggregator ulasan Rotten Tomatoes, film ini memperoleh skor awal sempurna 100 persen, dengan banyak kritikus memuji keseimbangan antara humor gelap dan tragedi manusia yang dihadirkan dengan presisi khas Park.

The Guardian menulis, “Park Chan-wook berhasil menciptakan kisah tentang penderitaan kelas pekerja tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya. Ini adalah film yang lucu, gelap, dan menyakitkan sekaligus”. Sementara itu, media Asia seperti Detik.com dan Kyna Online menyoroti keberhasilan film ini sebagai salah satu karya Park Chan-wook yang paling universal, menggambarkan realitas kehidupan modern dengan jujur dan apa adanya. Melalui kombinasi satire, tragedi, dan sentuhan kemanusiaan yang mendalam, No Other Choice berhasil melampaui batas budaya dan bahasa menjadikannya simbol kekuatan sinema Korea di panggung dunia.

“No Other Choice” bukan hanya film tentang seorang ayah yang kehilangan pekerjaan. Ini adalah potret sosial tentang manusia modern yang terjebak dalam sistem tanpa jalan keluar. Park Chan-wook sekali lagi membuktikan kemampuannya meramu kritik sosial ke dalam narasi sinematik yang kuat, emosional, dan estetis. Dengan performa menawan Lee Byung-hun dan Son Ye-jin, serta naskah yang tajam dan relevan, film ini menegaskan bahwa sinema Korea masih menjadi salah satu suara paling berani dalam mengangkat realitas sosial kontemporer.

Film ini dijadwalkan tayang secara luas di bioskop Korea dan internasional mulai akhir 2025, termasuk di jaringan bioskop Indonesia seperti CGV dan Flix Cinema. Bagi penggemar film dengan lapisan makna dan gaya visual khas Park Chan-wook, “No Other Choice” adalah tontonan wajib kisah tentang kehilangan, ambisi, dan sisi tergelap dari perjuangan manusia untuk bertahan hidup.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *