Conan Gray Ungkap Arti di Balik Album Baru Wishbone: Kisah Paling Personal Sepanjang Kariernya
Setelah sukses besar dengan Found Heaven (2023), yang memperkuat posisinya sebagai salah satu penyanyi pop muda paling berbakat di generasinya, Conan Gray kini kembali dengan karya yang jauh lebih emosional dan intim lewat album terbarunya, Wishbone (2025).
Jika Found Heaven dikenal dengan produksi megah dan tema eksistensial yang sinematik, maka Wishbone hadir sebagai kebalikannya: lebih sederhana, lembut, dan sangat personal.
Dirilis pada 15 Agustus 2025 di bawah naungan Republic Records, album ini menandai titik balik penting dalam perjalanan musikal Conan. Tidak lagi bersembunyi di balik metafora yang rumit atau konsep yang besar, ia memilih untuk berbicara apa adanya tentang cinta, kehilangan, masa kecil, dan proses berdamai dengan diri sendiri.
Dalam berbagai wawancara, Conan mengaku bahwa proses menulis Wishbone membuatnya merasa seolah membuka lembaran hidup yang paling pribadi, sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat bahkan dari orang terdekatnya.
Konsep kejujuran dan kerentanan menjadi inti dari Wishbone. Conan menyebut album ini sebagai “the most me” karya yang paling merepresentasikan dirinya, tanpa filter, tanpa persona, dan tanpa rasa takut untuk terlihat rapuh. Melalui lirik-lirik yang lugas dan aransemen yang hangat, ia berusaha menunjukkan siapa dirinya sebenarnya di balik sorotan popularitas.

Dalam banyak hal, Wishbone bukan sekadar koleksi lagu, melainkan perjalanan menuju pemahaman diri, sebuah ruang dimana Conan akhirnya bisa berkata: “Inilah aku yang sesungguhnya”.
Berbeda dari album-album sebelumnya yang lebih terkonsep dan terencana, Wishbone justru lahir di tengah perjalanan panjang tur dunia Conan Gray. Di sela-sela jadwal yang padat, ia menemukan momen paling jujur untuk menulis bukan di studio megah, melainkan di ruang-ruang kecil yang asing namun menenangkan.
Conan sering kali menciptakan lagu di kamar hotel saat larut malam, di kursi belakang bus tur, atau bahkan di ruang ganti setelah pertunjukan, ketika sorak penonton sudah mereda dan hanya tersisa suara gitar akustik miliknya. “It was just me and my guitar. I wrote most of these songs alone because I needed to”, ungkapnya dalam wawancara dengan Cosmopolitan, menegaskan bahwa proses kreatif kali ini lahir dari kebutuhan emosional, bukan sekadar rutinitas artistik.
Bekerja kembali bersama Dan Nigro, produser yang juga menjadi kolaborator utama sejak era Kid Krow (2020), Conan memilih untuk kembali ke akar penciptaannya menulis dengan keheningan, kejujuran, dan tanpa tekanan industri. Nigro mendorongnya untuk tidak memikirkan ekspektasi pasar atau tren pop yang sedang berlangsung, melainkan fokus pada apa yang benar-benar ingin ia katakan. Hasilnya adalah kumpulan lagu yang terasa tulus, intim, dan bebas dari pretensi.
Secara musikal, Wishbone menampilkan warna yang lebih organik dan hangat dibandingkan karya-karyanya sebelumnya. Gitar akustik, denting piano, dan tekstur instrumen analog menjadi elemen utama yang membentuk atmosfer lembut dan reflektif. Pendengar seolah diajak masuk ke ruang pribadi Conan ruang di mana setiap nada terasa seperti pengakuan.
Pengaruh musik country dan folk-pop 90-an yang ia dengarkan semasa kecil di Texas juga memberi nuansa nostalgia yang khas, menghadirkan perpaduan antara kedewasaan artistik dan kehangatan emosional. Dalam Wishbone, Conan Gray tidak hanya menulis lagu, tetapi juga menciptakan ruang bagi dirinya untuk bernapas, mengenang, dan menyembuhkan.
Tema besar dalam Wishbone berputar di sekitar tiga hal utama: cinta, kehilangan, dan pencarian jati diri. Bagi Conan Gray, album ini bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan perjalanan emosional yang merekam seluruh spektrum perasaan manusia dari jatuh cinta, patah hati, hingga belajar melepaskan. Dalam wawancara bersama NME, ia menyebut Wishbone sebagai “setiap potongan kecil dari rasa sakit setelah patah hati”, menggambarkan betapa setiap lagu adalah fragmen kejujuran yang disusun dengan penuh perasaan. Lagu pembuka “This Song” hadir dengan nada penuh harapan, seolah mewakili awal kisah cinta yang hangat dan polos.
Namun, di sisi lain, lagu seperti “Vodka Cranberry” dan “Connell” menelusuri ruang-ruang gelap di hati rasa bersalah, kehilangan, dan kemarahan yang muncul ketika cinta tak lagi bertahan. Kontras antara keduanya menciptakan dinamika yang membuat Wishbone terasa seperti perjalanan penyembuhan yang nyata: dimulai dari kebahagiaan, melalui kehancuran, hingga akhirnya tiba di refleksi diri.
Lebih dalam lagi, album ini juga menjadi sarana bagi Conan untuk merefleksikan masa kecil dan identitas pribadinya. Lagu “Class Clown” menghadirkan potret menyentuh tentang dirinya sebagai remaja yang selalu berusaha membuat orang lain tertawa agar diterima sebuah mekanisme pertahanan diri yang kini ia pandang dengan empati. Sementara “Nauseous” menggambarkan bagaimana luka dan trauma masa kecil mempengaruhi cara ia mencintai dan membangun keintiman di masa dewasa.

Melalui dua lagu ini, Conan tidak sekadar bercerita, tetapi juga menyelami dirinya sendiri. Ia menulis bukan untuk mendramatisasi pengalaman hidup, melainkan untuk memahami akar emosinya dan bagaimana hal itu membentuk dirinya hari ini.
Sisi lain yang membuat Wishbone begitu penting adalah keberanian Conan menampilkan kisah cinta queer secara terbuka dan penuh kelembutan. Untuk pertama kalinya, ia menampilkan narasi cinta sesama jenis secara eksplisit dalam video musiknya melalui karakter Wilson dan Brando yang muncul di “This Song”, “Caramel”, dan “Vodka Cranberry”.
Visualnya menonjolkan romansa musim panas yang penuh nostalgia: manis, tulus, dan nyata. “It’s a love story I needed to see for myself”, ujarnya kepada People, menandakan bahwa karya ini juga merupakan bentuk rekonsiliasi dengan identitasnya sendiri. Dengan cara itu, Wishbone melampaui batas sebagai sekadar album pop; ia menjadi pernyataan identitas, ruang representasi, sekaligus perayaan kejujuran emosional dalam segala bentuknya.
Judul Wishbone bukan dipilih Conan Gray semata karena terdengar unik atau estetis, melainkan karena makna simbolis yang kuat di baliknya. Dalam tradisi Barat, wishbone tulang berbentuk huruf “Y” yang biasanya diambil dari burung kalkun digunakan sebagai simbol keberuntungan. Dua orang akan memegang masing-masing ujung tulang tersebut, membuat permintaan, lalu menariknya hingga patah. Siapa yang memegang bagian lebih panjang dipercaya akan mendapatkan harapannya terkabul.
Bagi Conan, simbol sederhana itu menyimpan makna emosional yang dalam tentang cinta dan kehilangan. Ia menggambarkannya sebagai metafora dari hubungan yang tidak selalu berjalan seimbang: “Kadang kita berharap bersama seseorang, tapi hanya satu yang dapat keinginannya. Yang lain kehilangan segalanya”, ujarnya. Dari situlah, Wishbone lahir sebagai lambang keberanian untuk tetap berharap, bahkan ketika hasilnya bisa menyakitkan.
Album ini menjadi refleksi jujur tentang cinta yang tak selalu adil, tentang harapan yang kadang berujung luka, dan tentang realitas kehidupan yang tidak selalu berpihak pada keinginan kita. Melalui judul ini, Conan mengajak pendengarnya memahami bahwa keindahan sejati justru terletak pada keberanian untuk tetap bermimpi, meski kita tahu bahwa patah adalah bagian dari perjalanan itu sendiri.
Conan Gray tidak pernah ragu menyebut Wishbone sebagai karya paling jujur dan pribadi sepanjang kariernya sebuah album yang benar-benar mewakili siapa dirinya tanpa topeng, tanpa penyaring, dan tanpa kompromi. “This one’s for the kid I used to be”, ujarnya dalam wawancara dengan Grammy.com, mengisyaratkan bahwa proyek ini adalah bentuk rekonsiliasi dengan masa lalunya. Wishbone menjadi semacam surat cinta untuk versi kecil dirinya yang dulu takut berbicara, takut mencintai, dan takut terlihat “berbeda” di mata dunia.
Melalui lagu-lagu di dalamnya, Conan berusaha menyembuhkan luka lama yang pernah ia pendam bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan keberanian untuk tampil apa adanya. Kini, ia tidak lagi menulis hanya untuk para pendengar, melainkan juga untuk dirinya sendiri; untuk bagian-bagian dalam dirinya yang dulu kesepian, terabaikan, dan haus akan penerimaan.

Menariknya, lima lagu dalam album ini ditulis sepenuhnya oleh Conan tanpa bantuan co-writer, sebuah langkah yang memperlihatkan kedewasaan artistik sekaligus kontrol kreatif penuh atas visinya. Keputusan itu menjadikan Wishbone bukan sekadar karya musik, tetapi juga pernyataan diri hasil refleksi mendalam seorang seniman yang akhirnya menemukan suara sejatinya.
Selama tur bertajuk Wishbone Pajama Show, Conan Gray menggambarkan pengalaman tampil di atas panggung sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar konser baginya, itu adalah perasaan “pulang”. Ia menuturkan bahwa setiap kali menyanyikan lagu-lagu dari Wishbone, ia merasa seolah sedang berbicara dengan teman-teman terdekat, bukan sekadar menghibur penonton.
“When I sing these songs, I feel like I’m talking to friends”, ujarnya penuh kehangatan. Konsep tur ini pun mencerminkan semangat keintiman yang menjadi jiwa album tersebut. Panggung didesain menyerupai kamar tidur dengan pencahayaan lembut, warna pastel, dan suasana yang nyaman, menciptakan kesan hangat dan akrab. Uniknya, banyak penonton datang mengenakan piyama sebagai bentuk partisipasi terhadap tema tur, memperkuat nuansa santai dan emosional yang ingin dihadirkan Conan. Setiap konser menjadi ruang aman di mana para pendengar dapat tertawa, menangis, dan bernyanyi bersama tanpa rasa takut dihakimi tempat di mana mereka, seperti halnya sang penyanyi, bisa benar-benar menjadi diri sendiri.
Wishbone bukan hanya tentang Conan Gray ini tentang siapa pun yang pernah mencintai dan kehilangan. Tentang mereka yang masih belajar berdamai dengan masa lalu, dan berusaha menjadi diri sendiri tanpa rasa takut. Album ini menunjukkan bahwa kejujuran adalah bentuk keberanian, dan bahwa patah hati bisa menjadi awal dari penyembuhan.
Wishbone menegaskan posisi Conan Gray sebagai salah satu penulis lagu paling jujur, peka, dan relevan di generasinya. Melalui lirik yang menyentuh, aransemen musik yang tulus, serta visual yang penuh makna, Conan menghadirkan lebih dari sekadar album pop ia menciptakan sebuah perjalanan emosional yang menghubungkan dirinya dengan para pendengarnya pada level yang mendalam.
Setiap lagu terasa seperti potongan kisah hidup yang dibagikan tanpa jarak, penuh kerentanan namun juga keberanian. Dalam wawancaranya bersama Cosmopolitan, Conan menutup dengan kalimat yang mencerminkan esensi dari seluruh proyek ini: “Wishbone is where I finally felt like myself”. Ucapan itu bukan hanya menggambarkan pencapaian artistik, tetapi juga kebebasan pribadi momen ketika ia akhirnya merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Dan bagi banyak orang yang mendengarkan, Wishbone menjadi lebih dari sekadar album; ia adalah tempat untuk merasa dipahami, tempat untuk beristirahat sejenak dari dunia yang bising sebuah rumah emosional tempat mereka, seperti Conan, akhirnya bisa merasa “pulang”.