Charli XCX Akui Ingin Mengakhiri Era “Brat” Menjelang Tayang Perdana The Moment
Pop star asal Inggris Charli XCX kembali menjadi perbincangan setelah melontarkan pernyataan tak terduga di ajang Sundance Film Festival 2026. Di tengah sorotan media dan antusiasme penonton, Charli secara terbuka mengakui bahwa dirinya kini benar-benar ingin menutup lembaran era Brat, sebuah fase kreatif yang bermula dari perilisan album terobosannya Brat pada 2024. Keinginan tersebut muncul seiring langkah barunya menjelang penayangan perdana mockumentary The Moment, proyek film yang menandai ekspansi seriusnya ke dunia akting.
Ungkapan ini menjadi sinyal perubahan besar dalam perjalanan karier Charli XCX. Selama hampir dua tahun terakhir, ia identik dengan fenomena budaya pop yang dijuluki Brat summer, sebuah periode ketika musik, estetika visual, dan persona “Brat” mendominasi percakapan global, mulai dari tangga lagu, media sosial, hingga tren gaya hidup. Album tersebut bukan hanya memperkuat posisinya sebagai ikon pop eksperimental, tetapi juga membentuk identitas publik yang begitu kuat. Kini, dengan kesadaran artistik yang semakin matang, Charli tampak siap meninggalkan fase tersebut dan melangkah menuju babak baru yang lebih segar dan menantang.
Fenomena “Brat” bermula pada musim panas 2024 ketika Charli XCX merilis album keenamnya, Brat, sebuah karya yang dengan berani meramu estetika Y2K, energi rave, dan pop eksperimental dalam satu visi musikal yang segar dan provokatif. Album ini dengan cepat meraih kesuksesan komersial, mendominasi tangga lagu, sekaligus melampaui batas musik dengan melahirkan gelombang tren budaya, mulai dari meme viral, gaya visual ikonis, hingga diskusi masif di media sosial.
Periode tersebut kemudian dikenal luas sebagai Brat summer, sebuah momen ketika identitas artistik Brat melekat begitu kuat pada citra Charli di mata publik dan media global. Kombinasi dentuman suara yang agresif, visual neon yang mencolok, serta persona pemberontak yang unapologetic menjadikan Brat bukan sekadar album, melainkan simbol zaman dan salah satu momen pop paling berpengaruh dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, di balik gemerlap popularitas dan pencapaian tersebut, Charli perlahan menyadari dorongan personal dan kreatif untuk melangkah lebih jauh, meninggalkan era yang telah membesarkan namanya demi membuka ruang bagi eksplorasi artistik baru.

Dalam sesi tanya jawab usai pemutaran perdana The Moment, Charli XCX menunjukkan sikap baru yang tegas terhadap fase kreatif yang selama ini melekat kuat pada dirinya. Ia secara terbuka mengakui keinginannya untuk mengakhiri era Brat dan menjauh sejauh mungkin dari identitas tersebut, sebuah pernyataan yang menegaskan hasratnya untuk melakukan peralihan artistik. Melalui ucapannya, Charli membedakan dirinya saat ini dengan versi dirinya yang digambarkan dalam film tersebut, menekankan bahwa dorongan untuk meninggalkan Brat lahir dari kebutuhan personal dan kreatif, bukan penolakan terhadap masa lalu. Charlotte Aitchison, nama asli sang musisi, menjelaskan bahwa keputusan ini sama sekali tidak berarti ia berhenti mencintai Brat, sebaliknya, itu adalah refleksi dari naluri seorang seniman yang selalu notice when a chapter has run its course. Bagi Charli, menutup era Brat adalah langkah penting untuk terus menantang batas dirinya, bereksperimen dengan medium dan perspektif baru, serta membuka ruang bagi ekspresi yang lebih luas dan berkembang.
The Moment bukan sekadar proyek film biasa, melainkan sebuah pernyataan artistik yang merefleksikan perjalanan batin dan profesional Charli XCX. Dikemas sebagai mockumentary semi-fiktional, film ini mengikuti kisah seorang bintang pop fiktif yang terinspirasi langsung dari pengalaman Charli sendiri, menyingkap tekanan industri, beban ekspektasi publik, hingga absurditas dunia musik modern dan budaya fandom yang kian intens.
Disutradarai oleh Aidan Zamiri dan diproduksi oleh A24, The Moment diperkaya dengan sejumlah cameo menarik yang semakin mengaburkan batas antara realitas dan fiksi. Berbeda dari film konser konvensional, karya ini mengajak penonton menyelami konflik kreatif dan komersial yang kerap tersembunyi di balik gemerlap panggung, sekaligus menyoroti bagaimana Brat berfungsi sebagai sebuah “kerangka kerja” identitas yang, meski sukses, justru bisa menjadi belenggu. Narasi tersebut menjadi cerminan langsung dari pergulatan Charli di dunia nyata, upayanya melepaskan diri dari persona yang telah membesarkan namanya demi menemukan versi diri yang lebih luas, bebas, dan terus berevolusi.
Dalam berbagai wawancara dan sesi panel di Sundance, Charli XCX menegaskan bahwa keinginannya untuk beralih dari era Brat sama sekali tidak didorong oleh rasa penolakan atau kejenuhan terhadap karya tersebut, melainkan oleh dorongan alami seorang kreator untuk terus bergerak dan berkembang. Ia mengakui bahwa setelah cukup lama berada dalam satu “cangkang artistik”, muncul kebutuhan mendesak untuk keluar dan menantang dirinya sendiri melalui pendekatan baru, perspektif segar, serta kolaborasi lintas medium, termasuk bekerja bersama sutradara dan tim kreatif di luar ranah musik yang selama ini menjadi rumah utamanya. Bagi Charli, stagnasi adalah hal yang paling ingin ia hindari, dan peralihan ini menjadi cara untuk menjaga kejujuran artistik sekaligus semangat bereksperimen yang sejak awal membentuk kariernya.

Keinginan tersebut juga tercermin dari langkahnya yang semakin serius mengeksplorasi dunia akting. Selain menjadi pemeran utama dalam The Moment, Charli turut terlibat dalam beberapa proyek film lain yang diputar di festival, menandai pergeseran arah menuju karier yang lebih multifaset. Di sisi lain, keputusan untuk menutup era Brat juga bersifat sangat personal, sebuah refleksi dari fase baru dalam hidupnya, di mana ia ingin menemukan cara-cara berbeda untuk mengekspresikan diri dan tumbuh sebagai seniman. Brat memang bukan sekadar album, melainkan fenomena budaya yang melambungkan namanya ke tingkat popularitas baru, namun Charli memahami bahwa setiap era seni memiliki batas alaminya. Sebagai artis yang terus berevolusi, ia memilih untuk melangkah maju dan menjelajahi ruang kreatif lain yang selama ini belum tersentuh, alih-alih terjebak dalam bayang-bayang kesuksesan masa lalu.
Menjelang perilisan The Moment di bioskop pada 30 Januari 2026, Charli XCX berdiri di ambang fase baru yang berpotensi mengubah arah kariernya secara signifikan. Proyek ini bukan hanya menandai debut pentingnya di layar lebar, tetapi juga membuka jalan bagi transformasinya dari sekadar bintang pop menjadi aktor dan kreator lintas media dengan spektrum ekspresi yang lebih luas. Langkah tersebut diperkuat oleh keterlibatannya dalam sejumlah proyek film lain yang dipresentasikan di Sundance, mencerminkan ambisi serius Charli untuk menancapkan jejak di dunia akting melalui kolaborasi dengan sutradara ternama dan jajaran aktor papan atas. Meski era Brat perlahan akan ditinggalkan sebagai identitas dominan dalam citra publiknya, pengaruh dan warisannya di ranah musik pop serta budaya penggemar tetap tak terbantahkan. Kini, Charli XCX tampak siap memasuki babak baru dalam perjalanan kreatifnya, sebuah fase yang lebih terbuka, lebih berani mengambil risiko, dan sarat dengan kemungkinan tak terduga.