Louis Tomlinson Ungkap Harry Styles Sudah Diprediksi Jadi Bintang Solo Utama One Direction
Di landskap musik pop global, One Direction tetap menjadi nama yang terus diperbincangkan meskipun grup tersebut resmi vakum sejak 2015. Jejak pengaruh mereka masih terasa kuat, terutama lewat perjalanan karier solo para anggotanya yang kini berkembang ke arah masing-masing. Publik dan penggemar pun tak pernah berhenti membandingkan pencapaian mereka, dari tangga lagu hingga pengaruh budaya pop.
Dalam konteks itulah, pernyataan terbaru Louis Tomlinson kembali menarik perhatian. Musisi asal Inggris ini mengungkapkan bahwa sejak awal ia sudah memiliki firasat kuat bahwa Harry Styles akan muncul sebagai figur paling menonjol di era pasca One Direction. Menurut Louis, kombinasi karisma, musikalitas, dan daya tarik global yang dimiliki Harry membuatnya terlihat seperti sosok yang ditakdirkan untuk menjadi bintang solo terbesar dari grup yang pernah mendominasi dunia tersebut.
Menurut Louis Tomlinson, kesuksesan besar yang kini diraih Harry Styles bukanlah sesuatu yang datang secara kebetulan. Dalam wawancara terbarunya, Louis menegaskan bahwa sejak masih berada di dalam One Direction, ia sudah melihat tanda-tanda kuat bahwa Harry akan melangkah paling jauh sebagai artis solo. Ia menyebut bahwa Harry tidak hanya memenuhi ekspektasi, tetapi bahkan melampauinya dengan cara yang mengesankan, seolah benar-benar “mengambil alih dunia” dengan karier solonya.

Bagi Louis, keyakinan tersebut berangkat dari pengamatan langsung terhadap kualitas yang dimiliki Harry. Di dalam dinamika One Direction, Harry dikenal sebagai sosok yang punya perpaduan langka antara bakat musikal, karisma panggung, dan daya tarik global. Ia mampu tampil menonjol tanpa harus menggeser identitas grup, sekaligus memiliki aura bintang yang terasa alami dan kuat.
Hal ini juga diamati oleh banyak pengamat industri musik. Sejak awal meniti jalur solo, Harry tampil dengan pendekatan yang berbeda dari mantan rekan satu band-nya, baik dari segi pilihan musik, citra visual, hingga cara membangun merek pribadi. Gaya bermusiknya yang berani dan tidak terpaku pada formula pop konvensional, ditambah dengan kepribadian yang otentik, membuatnya cepat menembus pasar global. Faktor-faktor inilah yang membuat Louis merasa yakin bahwa, di antara semua anggota One Direction, Harry Styles memiliki peluang paling besar untuk bersinar sebagai bintang solo utama.
Di luar pujiannya terhadap Harry Styles, Louis Tomlinson juga dengan jujur membuka cerita tentang bagaimana ia memandang dirinya sendiri setelah One Direction resmi berpisah. Ia mengakui bahwa masa transisi dari sebuah boyband raksasa menuju karier solo bukanlah hal yang mudah. Pada periode awal itu, Louis sempat diliputi kecemasan mengenai masa depannya di industri musik, sebuah perasaan yang wajar bagi banyak musisi yang harus membangun identitas baru tanpa payung nama besar grup.
Louis bahkan mengungkapkan bahwa saat itu ia tidak pernah membayangkan dirinya akan termasuk di antara anggota One Direction yang mampu meraih kesuksesan besar sebagai solo artist. Ia sadar betul bahwa sejarah industri musik menunjukkan pola yang sama, ketika sebuah band besar bubar, biasanya hanya satu atau dua nama yang benar-benar mampu bertahan dan berkembang di tingkat tertinggi. Dalam konteks One Direction, Louis sejak awal menilai bahwa Harry adalah figur yang paling mungkin menembus level tersebut.
Meski begitu, Louis tidak menutup mata terhadap potensi anggota lain. Ia juga menyebut memiliki keyakinan kuat terhadap Niall Horan, yang menurutnya memiliki daya tarik dan konsistensi yang memungkinkan ia membangun basis penggemar yang solid sebagai artis solo. Sikap ini memperlihatkan bahwa meskipun Harry menjadi pusat pembicaraan, Louis tetap memberikan penghargaan pada talenta dan perjalanan rekan-rekannya sebuah refleksi dari kedewasaan dan sportivitasnya dalam melihat dinamika pasca One Direction.

Sebagai gambaran nyata atas prediksi Louis Tomlinson, perjalanan solo Harry Styles sejak One Direction vakum pada 2015 menunjukkan lonjakan yang luar biasa. Ia merilis tiga album studio yang bukan hanya sukses secara komersial, tetapi juga mendapat pengakuan kritis, Harry Styles (2017), Fine Line (2019), dan Harry’s House (2022). Ketiga proyek tersebut menempatkannya di puncak industri pop modern, dengan deretan penghargaan bergengsi termasuk Grammy yang mengukuhkan statusnya sebagai salah satu artis paling berpengaruh di dunia saat ini.
Salah satu bukti paling kuat dari dominasinya adalah single “As It Was”, yang mencatatkan sejarah di berbagai tangga lagu internasional. Lagu ini menjadi salah satu rilisan dari artis Inggris yang bertahan paling lama di posisi puncak Billboard Hot 100, menandai tingkat popularitas yang hanya bisa dicapai oleh segelintir musisi global. Keberhasilan ini mencerminkan betapa luasnya jangkauan Harry, tidak hanya di pasar Eropa dan Amerika, tetapi juga di berbagai wilayah dunia.
Namun, kesuksesan Harry tidak berhenti pada angka penjualan dan streaming. Ia juga menjelma menjadi ikon budaya pop modern dari tur dunia berskala stadion, kolaborasi dengan nama-nama besar industri hiburan, hingga pengaruhnya dalam dunia fashion dan gaya hidup. Semua elemen ini berpadu membentuk citra seorang superstar lintas generasi. Dalam konteks inilah, keyakinan Louis Tomlinson bahwa Harry memang “ditakdirkan” menjadi bintang solo utama One Direction terasa semakin relevan dan terbukti oleh realita yang ada.
Di balik pengakuannya atas dominasi karier Harry Styles, Louis Tomlinson juga menegaskan bahwa hubungan di antara mereka tetap dilandasi rasa hormat, meski One Direction kini tinggal menjadi bagian dari sejarah. Ia beberapa kali menyampaikan bahwa dirinya merasa bangga melihat bagaimana Harry berkembang sebagai musisi dan figur publik, membangun identitas yang kuat tanpa harus bergantung pada masa lalu sebagai anggota boyband.
Sejumlah wawancara terdahulu turut menggambarkan dinamika serupa. Walau masing-masing anggota kini berjalan di jalur karier yang berbeda dan ambisi solo secara alami menciptakan jarak, ikatan personal yang terjalin selama bertahun-tahun tetap bertahan. Bentuknya mungkin tidak lagi berupa kolaborasi rutin, tetapi hadir sebagai dukungan diam-diam dan rasa saling menghargai atas pencapaian satu sama lain. Bahkan, Louis pernah menyebut Harry sebagai seorang “brother” ketika membicarakan kesuksesannya. Sebutan itu mencerminkan hubungan yang melampaui kerja profesional semata ada kedekatan emosional, kebanggaan, dan rasa memiliki yang tetap hidup meskipun mereka kini berdiri di panggung yang berbeda.
Pada akhirnya, pernyataan Louis Tomlinson tentang Harry Styles jauh melampaui sekadar nostalgia atau pujian sesama mantan rekan band. Itu adalah pengakuan jujur dari seseorang yang menyaksikan langsung perjalanan Harry sejak hari-hari awal One Direction sebuah refleksi atas bakat, karisma, dan daya tarik global yang memang sudah terlihat sejak awal. Dengan sudut pandang yang realistis dan penuh rasa hormat, Louis mengakui bahwa kesuksesan besar Harry bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari kualitas yang jarang dimiliki seorang artis. Di saat yang sama, sebagai musisi yang kini menapaki babak baru lewat album ketiganya How Did I Get Here?, Louis menunjukkan kedewasaan dalam memandang industri musik, bahwa setiap perjalanan punya jalannya sendiri, dan keberhasilan satu anggota tidak menghapus nilai perjuangan yang lain.