Leigh-Anne Pinnock Ungkap Pernah ‘Dighosting’ Label Lama, Sebut Pengalaman Itu ‘Cukup Brutal’
Leigh-Anne Pinnock, yang dulu dikenal luas sebagai salah satu anggota girl group populer Little Mix, baru-baru ini membuka kisah yang cukup mengejutkan mengenai hubungan kerjanya dengan label musik terdahulu. Dalam sebuah sesi wawancara podcast, penyanyi asal Inggris itu menceritakan bahwa dirinya sempat mengalami situasi di mana labelnya tiba-tiba berhenti berkomunikasi, sebuah kondisi yang ia sebut sebagai “dighosting”. Bagi Pinnock, kejadian tersebut terasa membingungkan, tidak menyenangkan, dan bahkan ia menggambarkannya sebagai pengalaman yang “cukup brutal”, karena terjadi di tengah upayanya membangun karier solo.
Pengakuan tersebut langsung memancing perhatian publik dan para pelaku industri musik. Wajar saja Pinnock selama ini dikenal sebagai sosok bertalenta yang telah menapaki perjalanan panjang sejak masa kejayaannya bersama Little Mix. Kisah ini bukan hanya menyoroti sisi lain dunia industri musik, tetapi juga membuka diskusi tentang bagaimana artis menghadapi situasi ketika dukungan dari label tiba-tiba menghilang.
Leigh-Anne Pinnock mulai dikenal luas oleh publik sebagai salah satu anggota girl band legendaris Little Mix, yang berhasil terbentuk setelah memenangkan ajang pencarian bakat The X Factor UK pada tahun 2011. Bersama Perrie Edwards dan Jade Thirlwall setelah kepergian Jesy Nelson, Pinnock ikut membawa Little Mix meraih berbagai pencapaian besar di kancah musik internasional, termasuk penjualan album yang fantastis, tur global, dan berbagai penghargaan bergengsi.
Setelah Little Mix memutuskan untuk hiatus dan setiap anggotanya mulai mengejar proyek solo, Leigh-Anne berfokus membangun identitasnya sendiri sebagai artis. Ia telah merilis sejumlah single solo dan tengah menyiapkan album pertamanya, menandai awal perjalanan karier independennya. Namun, langkah tersebut ternyata tidak selalu mudah perjalanan untuk menemukan suara pribadi dan posisi uniknya di industri musik menghadirkan tantangan tersendiri yang harus ia hadapi dengan tekad dan kreativitas.

Istilah ghosted awalnya populer dalam konteks hubungan pribadi, menggambarkan situasi di mana seseorang tiba-tiba menghilang tanpa memberikan penjelasan. Dalam dunia musik, istilah ini memiliki arti yang serupa, namun lebih terkait dengan hubungan profesional seorang artis dapat dighosting ketika label atau manajemen tiba-tiba menghentikan semua komunikasi dan dukungan, tanpa alasan yang jelas atau pemberitahuan resmi.
Bagi banyak musisi, pengalaman semacam ini bisa menimbulkan kebingungan dan rasa frustrasi yang mendalam, terutama karena mereka telah menaruh banyak waktu, usaha, dan kreativitas ke dalam proyek-proyek musik mereka. Situasi ini lah yang dialami oleh Leigh-Anne Pinnock, yang merasa tersisih dan tidak mendapat kejelasan dari label lamanya, meskipun karier solonya baru saja mulai menapaki tahap penting.
Dalam sebuah wawancara bersama Mad Sad Bad with Paloma Faith, Leigh-Anne Pinnock membagikan kisah tentang hubungannya dengan label musik lama yang telah terjalin selama beberapa tahun. Menurut pengakuannya, hubungan profesional itu berakhir secara tiba-tiba dan tanpa penjelasan, meninggalkan kebingungan bagi dirinya dan tim manajemennya.
Pinnock menceritakan bahwa komunikasi dengan label secara mendadak berhenti. Timnya yang sebelumnya rutin berkoordinasi dengan pihak label, kini tidak lagi menerima tanggapan apapun. Ia bahkan membagikan momen yang sekaligus lucu dan mengejutkan, sang bos label sempat melakukan panggilan telepon, namun sambungan terputus setelah hanya dua dering. “I just thought, ‘okay… what just happened?’” ujarnya, menekankan betapa membingungkannya situasi tersebut.
Ketika ditanya mengenai alasan di balik perlakuan ini, Leigh-Anne mengaku bahwa ia tidak pernah menerima penjelasan yang jelas. Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai “cukup brutal”, menyoroti betapa situasi itu terasa tidak profesional dan sama sekali tidak mendukung perkembangan kariernya pada saat itu. Pengalaman ini menegaskan sisi gelap yang kerap tersembunyi di balik industri musik, bahkan bagi artis sekelas dirinya.
Bagi banyak musisi, hubungan dengan label musik jauh lebih dari sekadar kontrak atau transaksi bisnis. Label sering menjadi mitra strategis yang membantu artis mengembangkan karya, merencanakan promosi, dan membawa musik mereka ke audiens global. Namun, ketika hubungan ini berakhir secara mendadak tanpa komunikasi terbuka atau penjelasan yang jelas, konsekuensinya bisa sangat signifikan baik secara profesional maupun personal.
Bagi Leigh-Anne Pinnock, pengalaman tersebut bukan hanya masalah profesionalisme semata. Hal ini juga menyentuh aspek harga diri, kepercayaan diri, dan kendali kreatifnya sebagai seorang artis. Sebelumnya, Pinnock telah aktif mengerjakan sejumlah proyek, termasuk sebuah EP berjudul No Hard Feelings, sesi penampilan live, serta beberapa single yang dirilis di era pasca-Little Mix, yang menandakan bahwa ia serius membangun identitas musik solonya.

Sikap dingin dan minimnya komunikasi dari label membuat Pinnock merasa frustrasi dan tidak menentu mengenai arah kariernya. Namun, daripada terhenti oleh situasi ini, ia memilih untuk mengambil alih kendali penuh atas jalannya karier. Saat ini, Pinnock sedang mengeksplorasi pendekatan baru yang lebih independen, menekankan kreativitasnya sendiri, serta membangun strategi yang memberdayakan dirinya sebagai artis solo yang lebih mandiri.
Setelah hubungan kerjanya dengan label terdahulu berakhir, Leigh-Anne Pinnock memilih untuk mengambil arah baru dalam perjalanan musiknya. Alih-alih membiarkan situasi tersebut menghentikan langkahnya, ia justru melihatnya sebagai kesempatan untuk membangun fondasi karier yang lebih kuat. Pinnock kemudian menjalin kerja sama dengan Virgin Music Group, namun tetap mempertahankan statusnya sebagai artis independen agar kontrol kreatif tetap berada di tangannya.
Keputusan ini menandai perubahan besar dalam cara Pinnock memandang industri musik. Ia tidak lagi bergantung sepenuhnya pada struktur label besar yang kaku, melainkan memilih model kolaborasi yang lebih fleksibel. Tren seperti ini kini semakin banyak diikuti oleh artis modern, terutama mereka yang ingin memastikan bahwa suara, arah musik, dan visi artistik mereka tidak terdistorsi oleh kepentingan komersial semata.
Dengan format kemitraan baru tersebut, Pinnock memperoleh ruang yang lebih luas untuk bereksperimen, menentukan strategi perilisan, hingga terlibat langsung dalam pemasaran karya-karyanya. Dukungan yang lebih adaptif dari Virgin Music Group membuatnya merasa lebih percaya diri. Tak heran, ia kini menyambut masa depan karier solonya dengan optimisme yakin bahwa kebebasan kreatif yang ia miliki akan membantunya menghadirkan musik yang lebih personal dan autentik bagi para penggemarnya.
Sebagai bukti bahwa konflik dengan label lamanya tidak membuatnya berhenti berkarya, Leigh-Anne Pinnock resmi mengumumkan tanggal rilis album solo pertamanya yang bertajuk My Ego Told Me To. Album ini dijadwalkan meluncur pada 20 Februari 2026, menandai fase baru dalam kariernya sebagai penyanyi solo yang lebih mandiri dan percaya diri. Karya ini dianggap sebagai tonggak penting karena menjadi wadah bagi Pinnock untuk mengekspresikan sisi personal sekaligus musikal yang selama ini ingin ia jelajahi. Album tersebut memadukan sejumlah genre favoritnya mulai dari R&B, pop, hingga sentuhan reggae menghadirkan karakter suara yang segar namun tetap mencerminkan jati dirinya.
Sebagai pemanasan menuju perilisan album, Pinnock telah memperkenalkan beberapa lagu lebih dulu kepada publik, antara lain “Been a Minute”, “Burning Up”, dan “Dead and Gone”. Deretan lagu tersebut memberi gambaran mengenai arah musik yang ingin ia bangun lebih matang, emosional, dan berorientasi pada cerita pribadi. Upaya ini semakin menegaskan bahwa Pinnock tidak hanya bertahan di tengah tantangan, tetapi juga terus berkembang sebagai artis yang siap berdiri di atas karyanya sendiri.
Kisah Leigh-Anne Pinnock tentang pengalaman ghosting dari label lamanya bukan sekadar berita hiburan, tetapi membuka percakapan yang lebih luas mengenai dinamika industri musik di balik layar. Peristiwa ini menunjukkan bahwa komunikasi yang buruk dari pihak label dapat memberikan dampak besar pada kepercayaan diri, arah, dan perkembangan karier seorang artis. Pada saat yang sama, pengalaman Pinnock juga mencerminkan perubahan tren semakin banyak musisi yang memilih terlibat lebih aktif dalam strategi kreatif dan bisnis mereka sendiri, sekaligus mencari model kerja sama yang lebih fleksibel, seperti kemitraan dengan Virgin Music Group yang memberi ruang lebih besar untuk kebebasan artistik. Dengan album barunya yang segera rilis dan kepercayaan diri baru sebagai artis solo, Leigh-Anne membuktikan bahwa pengalaman pahit tidak selalu menjadi akhir. Justru dari titik itulah ia memulai babak baru yang lebih matang, lebih mandiri, dan sepenuhnya berada di bawah kendalinya.