| | | |

Bruno Mars “I Just Might” Diulas Mendalam, Tetap Retro, Tetap Relevan di Era Musik Modern

Bruno Mars kembali menegaskan dominasinya di industri musik global lewat perilisan single terbarunya, “I Just Might”, sebuah lagu yang menjadi penanda dimulainya era baru dalam perjalanan karier solonya. Karya ini berfungsi sebagai pembuka untuk album The Romantic, yang menjadi album solo pertamanya setelah hampir sepuluh tahun sejak rilisan terakhir. Kehadiran lagu ini langsung menarik perhatian karena menampilkan karakter musikal khas Bruno Mars yang matang, penuh percaya diri, dan sarat identitas artistik.

Melalui “I Just Might”, Bruno Mars sekali lagi membuktikan kemampuannya meramu estetika musik retro menjadi sesuatu yang terasa segar dan relevan bagi pendengar masa kini. Alih-alih sekadar bernostalgia, ia menghadirkan nuansa klasik funk, disco, dan soul dengan pendekatan produksi modern, menjadikannya selaras dengan selera musik kontemporer. Lagu ini menegaskan bahwa gaya retro bukanlah tren usang, melainkan fondasi kuat yang tetap mampu bersinar di tengah dinamika industri musik modern yang terus berubah.

“I Just Might” menghadirkan atmosfer musikal yang kuat dari era 1970-an hingga awal 1980-an, dengan sentuhan disco-pop, funk, dan soul yang terasa dominan sejak nada pembuka. Aransemen lagunya dirancang dengan detail yang kaya, memadukan petikan gitar yang cerah, permainan bass yang ritmis dan groovy, serta elemen brass yang hidup, berpadu dengan tempo menengah yang secara alami mengundang pendengar untuk ikut bergerak dan berdansa.

Sumber: gettyimages

Sejumlah kritikus menilai bahwa Bruno Mars tidak sekadar mengadopsi gaya klasik tersebut, melainkan mengolahnya kembali melalui pendekatan produksi yang modern sehingga tetap terdengar segar dan relevan di telinga generasi saat ini. Formula ini mengingatkan pada eksplorasi musikalnya bersama Silk Sonic dalam album An Evening With Silk Sonic, di mana Mars juga sukses menghidupkan kembali nuansa R&B dan funk klasik dengan kemasan yang kontemporer dan berkelas.

Dalam “I Just Might”, Bruno Mars menata aransemen musik dengan tempo yang terkontrol dan tidak tergesa-gesa, memberi ruang bagi setiap elemen untuk tampil seimbang dan berkarakter. Ketukan drum yang konsisten berpadu dengan bassline funky yang dinamis, sementara sentuhan instrumen tiup hadir sebagai aksen yang memperkaya tekstur lagu sekaligus menegaskan nuansa retro yang menjadi identitas utamanya.

Pendekatan ini tidak hanya membangun groove yang kuat, tetapi juga menciptakan suasana hangat dan mengalir khas musik funk dan disco klasik. Di sisi lain, bagian hook dirancang dengan pengulangan frasa yang mudah melekat di ingatan, menjadikan lagu ini cepat dikenali dan mudah dinikmati. Dikombinasikan dengan vokal Bruno Mars yang terdengar santai namun penuh karisma, aransemen tersebut menjadi jembatan yang efektif antara energi musik retro dan selera pendengar modern.

“I Just Might” mengangkat tema yang sederhana namun efektif, berfokus pada momen spontan yang tercipta di lantai dansa ketika ketertarikan muncul secara alami. Melalui liriknya, Bruno Mars menggambarkan perasaan terpikat pada seseorang bukan semata karena penampilan fisik, melainkan karena energi, gerak, dan chemistry yang terbangun saat menari mengikuti irama musik. Nuansa cerita yang ringan dan penuh keceriaan ini terasa kuat dalam setiap bait, menjadikan lagu tersebut sebagai ajakan terbuka untuk berdansa dan menikmati suasana tanpa beban. Di tengah dominasi lagu pop modern yang kerap mengedepankan emosi mendalam atau refleksi personal, “I Just Might” tampil menonjol sebagai anthem pesta yang merayakan kebebasan, kesenangan, dan kegembiraan kolektif di lantai dansa.

Sumber: IDN Times

Video musik “I Just Might” memperkuat identitas lagu dengan balutan visual retro yang kental dan konsep kreatif yang lekat dengan karakter Bruno Mars. Disutradarai oleh Mars sendiri bersama Daniel Ramos, video ini menampilkan suasana ala era 1970-an, di mana ia tampil melakukan koreografi energik sekaligus memainkan berbagai instrumen, ditemani beberapa versi dirinya sebagai personel band. Pendekatan visual tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghormatan terhadap estetika masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari narasi besar yang ingin dihadirkan, menghidupkan kembali atmosfer pesta klasik yang penuh gaya dan keseruan. Hasilnya, “I Just Might” terasa seperti perjalanan lintas waktu dalam bentuk audio-visual yang memikat, memadukan nostalgia dengan daya tarik modern secara harmonis.

“I Just Might” menerima sambutan yang sebagian besar positif dari kritikus musik maupun penggemar, dengan banyak ulasan yang menilai lagu ini sebagai contoh kuat bagaimana pendekatan retro masih dapat terasa segar di tengah lanskap musik modern. Sejumlah media, termasuk Pitchfork, menyoroti nuansa boogie klasik yang menjadi ciri khas Bruno Mars, lengkap dengan elemen seperti handclaps yang ritmis, tiupan trompet yang tajam, serta bassline dinamis yang secara alami mengajak pendengar untuk bergerak. Meski demikian, lagu ini juga memunculkan diskusi kritis di kalangan pendengar, di mana sebagian menilai pendekatan retro tersebut terasa mirip dengan karya-karya Mars sebelumnya dan dianggap kurang memberikan kejutan baru. Bahkan, ada pula komentar di media sosial yang menyebut bahwa sang musisi seolah mengulang formula yang sama selama bertahun-tahun. Namun, justru konsistensi inilah yang menjadi kekuatan utama “I Just Might”, karena Bruno Mars mampu mengolah kembali estetika disco dan funk klasik menjadi karya yang tetap relevan bagi audiens masa kini tanpa kehilangan identitas musikal yang telah melekat kuat pada dirinya.

“I Just Might” menjadi single pembuka dari The Romantic, menandai kembalinya Bruno Mars ke jalur solo setelah hampir satu dekade sejak perilisan 24K Magic pada 2016, yang sebelumnya sukses memadukan elemen funk, R&B, dan pop secara harmonis. Album terbaru ini dipandang sebagai tonggak penting dalam perjalanan karier Mars, karena menegaskan posisinya sebagai artis yang mampu berinovasi sekaligus mempertahankan ciri khas musikalnya. Setelah sejumlah kolaborasi sukses, termasuk proyek Silk Sonic, Bruno Mars kembali tampil solo dengan energi yang segar dan pendekatan musikal yang matang, membuktikan kemampuannya untuk tetap relevan dan menonjol di kancah musik modern.

“I Just Might” karya Bruno Mars membuktikan bahwa gaya musik retro, ketika dikombinasikan dengan produksi modern dan sentuhan universal, masih mampu tampil relevan dan menarik di panggung musik kontemporer. Lagu ini bukan sekadar ajakan untuk berdansa, tetapi juga pengingat bahwa elemen klasik seperti funk dan disco tetap memiliki peran penting dalam lanskap pop global. Dengan perilisan album The Romantic yang segera menyusul, serta tur dunia yang direncanakan, Bruno Mars menunjukkan kesiapan untuk terus memperkuat warisannya sebagai salah satu artis paling berpengaruh, yang mampu menjembatani nostalgia musikal dengan tren dan selera pendengar masa kini.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *